halaman

Wednesday, May 11, 2011

“Segudu” HIV/AIDS


“Segudu” HIV/AIDS
(Jauhi HIV/AIDS)
Suku Eskimo di daerah kutub memiliki cara yang unik dalam memburu serigala, binatang karnivora (pemakan daging) yang sangat buas ini diburu dengan cara yang sangat halus, pada mulanya para pemburu melumuri pisau yang sangat tajam dengan darah kemudian pisau tersebut ditancapkan di daerah yang banyak serigalanya, dengan posisi pangkalnya ke tanah dan unjung pisau meruncing keatas, serigala yang mencium darah tersebut mulai menghampiri pisau itu dan dia menjilatinya perlahan lidah dan mulutnya mulai terluka dan mengeluarkan banyak darah, serigala malang itu menikmati darahnya sendiri sampai dia kehabisan darah dan mati seketika, dan para pemburu Eskimo dengan mudah memburu serigala tersebut.
Serigala itu terlena dalam kenikmatan yang mematikan, dia terjerumus dengan tipu daya kenikmatan  yang harus dibayar dengan nyawanya sendiri, terkadang kita tidak menyadari apa yang sebenarnya kita lakukan padahal bisa jadi tindakan kita itu justru menjadi racun yang siap merenggut hidup kita, menamatkan cerita kita dalam perselancaran mengarungi indahnya dunia, merebut kita dari orang-orang yang dengan tulus mencintai kita, dan mengakhiri catatan kehidupan kita dengan label orang gagal dan pecundang sejati.
Sekiranya cerita serigala malang diatas dapat menjadi analogi yang disejajarkan dengan orang-orang yang menderita HIV/AIDS, pada mulanya mereka larut dalam kesenangan padahal kesanangan itu harus mereka bayar dengan hidup mereka sendiri. Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV ) dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. Virus yang ditemukan oleh Luc Montagnier dari Perancis ini menjadi pembunuh paling menakutkan yang siap menyerang siapa saja, berawal dari suatu daerah disub sahara hingga menyebar keseluruh penjuru dunia.
Virus HIV menular melalui enam cara penularan, yaitu: Pertama. Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS: Hubungan seksual secara vaginal, anal dan oral dengan penderita HIV tanpa perlindungan bisa menularkan HIV. Selama hubungan seks berlangsung, cairan sperma, cairan vagina dan darah dapat mengenai selaput lendir vagina, penis, dubur atau mulut sehingga HIV yang terdapat pada cairan tersebut masuk ke aliran darah.
Kedua. Ibu pada bayinya: Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan (in utero). Bila ibu yang baru terkena HIV dan belum ada gejala AIDS maka masih ada kemungkinan 0,01% sampai 0,7% bayi diselamatkan, namun jika sudah ada gejala AIDS maka 50% kemungkinan tertular bisa terjadi. Transmisi lain terjadi selama periode post partum melalui ASI, yaitu ibu yang positif HIV/AIDS menyusui bayinya.
Tiga. Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS: Sangat cepat menularkan HIV  karena virus langsung masuk kepembuluh darah dan menyebar keseluruh tubuh.
Empat. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steri:l Alat pemeriksa kandungan seperti spekulum, tunakulum, dan alat lain yang menyentuh darah, cairan sperma atau cairan vagina yang terinfeksi HIV, dan lansung digunakan oleh orang lain.
Lima. Alat-alat untuk menoreh luka: Alat tajam dan runcing seperti jarum, pisau, silet, menyunat seseorang, membuat tato, memotong rambut dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat tersebut dipakai sebelum di sterril terlebih dahulu.
Enam. Menggunakan jarum suntik secara bergantian: Jarum suntuik yang digunakan di fasilitas kesehatan, maupun yang digunakan oleh para pengguna narkoba (Injecting Drug User-IDU) sangat berpotensi menularkan HIV. Selain jarum suntik, pada para pemakai IDU secara bersama-sama juga menggunakan tempat penyampur, pengaduk, dan gelas pengoplos obat, sehingga berpotensi tinggi untuk menularkan HIV.
HIV tidak menular melalui peralatan makanan, pakaian , handuk, sapu tangan, toilet yang dipakai bersama-sama, berpelukan dipipi, berjabat tangan, hidup seruma dengan pengidap HIV/AIDS, gigitan nyamuk, dan hubungan sosial lainnya.
Namun yang menjadi indikasi potensial tertularnya virus ini melalui media  dari hubungan seks bebas (free sex) dan tidak aman serta para pengguna narkoba terutama narkoba suntik. Hal ini lah yang menjadi momok utama yang harus diperangi oleh segenap masyarakat dunia.
Di kota tercinta kita ini sendiri sangat berpotensi suburnya HIV/AIDS, dimana prostitusi tumbuh berkembang dibeberapa titik, sudah bukan rahasia lagi para pekerja seks komersial (PSK) yang setiap malam menjajalkan dirinya. Inilah yang menjadi sumber petaka kemanusaian, dekadensi moral dan iman yang terus terjadi, prostitusi mestinya dibrantas dengan tegas dan tak layak ada didaerah yang sangat menjunjung tinggi adat se atoran ini.

Dampak social masyarakat
1.      Dampak sosiologi
Para pengidap HIV/AIDS akan meresahkam masyarakat, karena masyarakat cenderung memandangnya dengan sebelah mata dan tidak mau bergaul dengan para pengidap penyakit tersebut.

2.      Dampak Kesehatan
Secara otomatis orang yang mengidap HIV/AIDS lebih rentan terserang penyakit, sehingga menyebabkan berbagai penyakit akan menghampirinya, menurut penelitian, orang yang mengidap HIV/AIDS usianya tak kurang dari 8-10 tahun. Selain itu untuk penyakit yang satu ini belum ditemukan obatnya sampai sekarang.
3.      Dampak ekonomi
Upaya untuk beobat agar memperpanjang usia hanya akan menghabiskan uang yang sangat banyak, apalagi para pengidap sudah tak mampu lagi untuk mencari nafkah sendiri, sehingga dia hanya menjadi beban bagi keluarga dan lingkungannya.
4.      Dampak SDM
Dengan meningkatnya para penderita HIV/AIDS akan berbanding lurus dengan sumber daya manusia yang akan makin menurun.

            Kita segenap warga dunia tentunya tidak menginginkan wabah penyakit ini terus menjalar di sendi-sendi kehidupan social kita. Ternate memang untuk semua orang tapi bukan untuk virus HIV/AIDS, kita mestinya berteriak dengan lantang “segudu HIV/AIDS toma ngom moi-moi na gam” hidup ini terlalu indah untuk dinodai dengan HIV/AIDS.
Cara Pencegahan
1.      Dekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.      Hindari seks bebes (free sex)
Sebisa mungkin menghindari dan menjauhi seks bebas seperti tempat prostitusi, dan hidarilah berhubungan seksual dengan para pengidap HIV/AIDS tanpa alat pengaman.
3.      Say no to drugs
Jangan memakai narkoba apalagi narkoba suntik.
4.      Pastikan setiap alat tajam seperti jarum, pisau dan lain sebagainya steril dari HIV/AIDS
5.      Hindar  menerima donor darah dari para pengidap HIV/AIDS.
saatnya  berperinsip “kita, ngan deng tong samua bukan yang selanjutnya”